Selasa, 02 Maret 2010

Hemat Pangkal Kaya



HEMAT

Hemat Pangkal Kaya Rajin Pangkal Pandai. Yes, inilah kata bijak yang semua kita sudah faham betul maksudnya, namun tidak sangat banyak diantara kita yang benar-benar hemat dan benar-benar rajin. Dengan demikian lebih banyak pula kita yang belum kaya dan belum pandai pada bidang yang sebenarnya kita ingin. Selain itu yang perlu diingat adalah bahwa Hemat itu baru pangkalnya saja untuk kaya, dan Rajin itu pun baru pangkalnya saja agar pandai. Kita perlu berhemat dan rajin dalam arti yang lebih luas.

RAJIN PANGKAL PANDAI

HEMAT PANGKAL KAYA

Para kaum cerdik-pandai dan penyair di masa lampau begitu getol menyebarkan pepatah ini di kalangan rakyat. Dalam buku, syair dan berbagai kitab pepatah ini dijadikan pegangan.

Mengapa rakyat mesti rajin ?

Karena memang rakyat harus rajin supaya bisa digunakan tenaganya dan mengabdi di istana raja-raja.

Mengapa pula rakyat harus hemat ?

Karena kalau tidak hemat pasti penghasilan rakyat takkan cukup untuk hidup.

Pepatah ini dalam sejarah kerajaan tidak berlaku untuk kalangan pejabat dan para pangeran. Seorang pangeran tidak berhemat, karena semua telah tersedia dan dicukupi.

Rajin bukanlah syarat, karena pelayan dan pengawal berada di sekeliling siap menanti perintah. Tanpa syarat rajin dan hemat Putra Mahkota bisa menjadi Raja – kalau sudah waktunya.

Seperti kata pepatah : anak harimau adalah harimau juga.

Jadi, syarat rajin dan hemat adalah untuk rakyat jelata dan orang awam berdarah merah atau hitam. Syarat ini tidak berlaku untuk mereka yang berdarah biru.

Seiring dengan berlalunya masa, percayalah, bahwa di masa sekarang syarat untuk menjadi pandai dan kaya sudah berbeda sama sekali.

Pangkal pandai bukanlah rajin, tetapi mempunyai orang tua kaya yang bisa membiayai banyak fasilitas pendidikan yang serba mahal.

Pangkal kaya bukan lagi berhemat, tetapi mempekerjakan orang rajin, orang disiplin dan orang pandai sebagai bawahan dan karyawan.

Perihal pertama dalam upaya untuk bisa hemat adalah bersikap awas terhadap kebiasaan sehari-hari. Gaya hidup sederhana adalah terkait dengan pilihan; tentang bagaimana kita membelanjakan uang, membeli kebutuhan-kebutuhan hidup, termasuk menghibur diri dan menikmati waktu luang. Ini bukan sekedar perkara membelanjakan lebih sedikit, tapi juga mengkonsumsi perihal yang berbeda.

Perihal kedua yang patut diwaspadai adalah sifat impulsifitas. Banyak orang yang membeli sesuatu tanpa perencanaan. Mereka langsung membeli seketika setelah mereka melihat dan menginginkan sesuatu. I want it and I want it Now. Gawat nih. Untuk perihal seperti ini, saya biasanya mendiamkan diri dulu hingga perasaan impulsif itu mereda. Soalnya dari pengalaman, setiap beli barang secara impulsif, mulai dari makanan kah, barang-barang kecil sampe laptop, impulsifitas pasti membawa penyesalan . Rasa senangnya tidak bertahan lama, terutama setelah rasionalitas & pertimbangan membuat diri menilai sebagaimana mestinya.







0 komentar:

Poskan Komentar